4 Seniman Indonesia di Australia Lawan Rasisme Lewat I Am Not A Virus

0
3

Karya seni Jayanto Tan berjudul “No Friend’s But The Ghost (Ceng Beng)”. (Photo: I AM NOT A VIRUS)

Jayanto Tan sedang berada dalam kereta menuju tempat kerja ketika seseorang yang disebutnya berasal dari “kelompok mayoritas” menghampirinya.

“Dia negor saya, saya mestinya di rumah, gak boleh keluar. Atau pulang ke Wuhan,” kata seniman asal Indonesia di Sydney, Australia itu.

“Saya kaget, ‘kok ke Wuhan? Saya kan bukan orang Chinese? Saya orang Indonesia,’ dalam hati.”

Pengalaman tersebut membuatnya merefleksikan kembali identitas dirinya dan mendorongnya untuk membuat sebuah karya seni.

Ketika sedang memantau proyek kesenian selanjutnya di internet, ia menemukan sebuah proyek bertajuk “I AM NOT A VIRUS’ yang berarti “Saya Bukan Virus”.

Proyek tersebut menampilkan karya dari 68 seniman sebagai reaksi terhadap tindakan rasisme yang terjadi di masa pandemi COVID-19.

Di dalamnya, terdapat lima orang seniman berdarah Indonesia yang ikut bersuara.

Teringat pengalamannya di kereta, Jayanto pun mengajukan ide karya seninya.

Seminggu kemudian, Jayanto menerima lampu hijau untuk mengeksekusi proyeknya.

Karya seni ini dinamakannya “No Friend’s But The Ghost (Ceng Beng)”, hasil refleksi identitas diri Jayanto sebagai seorang warga keturunan Tionghua dan Batak-Melayu.

Terbuat dari keramik, menurutnya produk ini lebih beriorientasi pada proses dibanding hasil akhir.

“Proses dari keramik mengingatkan [saya pada] masa lalu, ketika ibu membawa persembahan untuk Babe,” kenang Jayanto akan ayahnya yang meninggal ketika usianya baru lima tahun.

Menurutnya, proses pembentukan keramik dalam karya seni ini melambangkan perlakuan terhadap kelompok minoritas, baik di Indonesia ataupun Australia.

“[Keramik] dari yang lembut, dibakar, dikeringkan, dibakar, dan dikasih warna,” katanya.

“Minoritas selalu ditekan, dipermasalahkan sama mayoritas. Ke mana saja kamu pergi, pasti ditekan.”

Jayanto berusaha membahas masalah dan menyampaikan pesan secara halus, yakni melalui sentuhan warna pada makanan yang dipersembahkan dalam ziarah makam orang terkasih (Ceng Beng).

“Tradisi Hokkien, Indonesia, Australia, dikeluarkan. Warna [melambangkan] mixed culture [kebudayaan beragam] dan ras. Tidak ada diskriminasi,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here