Jakarta, Rubrik Indonesia — Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman merespons pernyataan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menyatakan bahwa akan ada kenaikan kasus positif Covid-19 akibat infeksi virus corona  hingga 40 ribu pasien pada Juni 2020.

Menurut Dicky, berdasarkan analisis tes polymerase chain reaction (PCR) massal yang dilakukan sejauh ini menunjukkan tingginya rasio deteksi virus corona SARS-Cov-2 di Indonesia.

Dicky kemudian menjelaskan angka 40 ribu itu didapat berdasarkan hitung-hitungan pada hasil tes baru-baru ini tepatnya pada Rabu (13/5), yakni dari 3.844 pasien yang di tes, ternyata ada 689 orang positif Covid-19. 

“Misal, update (perkembangan terbaru) hasil tes kemarin, dari 3.844 pasien yang di tes, didapat 689 positif. Positivity rate (tingkat kepositifan) hari kemarin sekitar 18 persen atau bisa diartikan kalau ada yang diperiksa 10 orang, maka dua orang akan memiliki kemungkinan untuk positif,” kata Dicky saat dihubungi Rubrikindonesia.com, Kamis (14/5).

Atas dasar perhitungan itu, Dicky menjelaskan bahwa angka 40 ribu pasien positif corona bisa terjadi. Dicky pun mengamini pernyataan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo yang menyatakan peningkatan angka kasus positif corona di Indonesia seiring dengan jumlah tes yang semakin banyak dilakukan.

Menurut dia, tes PCR massal menjadi kunci untuk meredam pandemi virus corona selain tracing (pelacakan). Sebab, tanpa strategi pengujian yang masif dan tepat, pemerintah dan masyarakat tidak tahu betapa besarnya masalah pandemi di Tanah Air.

“Tanpa testing, penyakit ini terus menyebar tanpa terkendali. Kuncinya di testing, kalau jumlah tes kurang ya temuan kasus juga menurun,” tutur Dicky.

“Idealnya dibuat target nasional dan wilayah dengan target 1 persen dari total populasi di tes, tentunya disasar kelompok rawan dan tepat,” lanjut dia.

Untuk mencapai 1 persen itu kata Dicky, mesti dibuat target harian. Misalnya suatu daerah memiliki jumlah penduduk satu juta, maka untuk mencapai target itu harus ada tes sebanyak 10 ribu.

Lalu dibuat strategi pengujian per hari 1.000 atau 500 di kabupaten atau kota tersebut. Namun, pengujian Covid-19 harus pakai metode PCR.

“Harus PCR dan idealnya hasil tes juga cepat untuk mencegah potensi penularan,” pungkasnya.

BNPB sendiri memang berencana akan menggalakkan pemeriksaan atau tes swab melalui mesin polymerase chain reaction (PCR) untuk mengetahui sebaran kasus virus corona secara lebih luas.

Pelaksana tugas Deputi II BNPB, Dody Ruswandi mengatakan target pemeriksaan 10 ribu tes PCR per hari. Namun, dia mengakui target itu sulit dilakukan karena minimnya sarana dan prasarana, termasuk, kapasitas laboratorium.

“Nanti mungkin jangan kaget bapak ibu bahwa minggu depan itu akan cenderung banyak naiknya. Secara teknis, memang harusnya itu, karena supaya kita bisa mempercepat selesainya Covid-19 ini,” kata Dody melalui forum Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VIII DPR RI, Selasa (12/5). (din/DAL)

[Gambas:Video CNN]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here