Jakarta, Rubrik Indonesia — Satu tahun terakhir ini kehidupan pemain muda Barito Putera, Ferdiansyah, mengalami fase turun dan naik. Ia sempat mengalami momen yang menggembirakan tetapi tak lama masa sulit datang menghampirinya.

Di awal tahun 2019, Ferdiansyah mendapat ganjaran dari kerja kerasnya dalam mengejar mimpi menjadi seorang pesepakbola profesional. Di usia 19 saat itu, pemain jebolan SSB Bina Taruna Rawamangun resmi dikontrak sebagai pemain muda Barito Putra untuk tampil di Liga 1.

Mimpi untuk bermain sepak bola di kompetisi sepak bola kasta tertinggi pun terwujud. Ia juga bisa berlatih dan bermain dengan pemain-pemain idolanya, seperti Samsul Arif dan Evan Dimas yang kala itu masih berseragam Barito Putera.
“Itu rezeki dari Allah. Debut saya waktu di Piala Presiden 2019, Barito melawan Persita Tangerang. Saya main pas di akhir babak kedua. Tidak lama tambahan waktu tiga menit. Enggak tahu lima menit sampai enggak waktu itu, tapi bangganya Masya Allah,” kata Ferdy saat berbincang dengan Rubrikindonesia.com.




Seusai teken kontrak, kabar tak enak diterima Ferdy. Di sela-sela latihan bersama Laskar Antasari, ia mendapat kabar kalau ayahnya terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Beruntung, sang ayah masih mendapatkan uang pemutusan kontrak yang bisa menopang kehidupan sehari-hari keluarga Ferdy di Cakung, Jakarta Timur. Maklum, sang ibu saat itu juga hanya berstatus sebagai ibu rumah tangga yang tidak memiliki penghasilan tetap.

Tak lama pascakabar sang ayah di-PHK, Ferdy menerima kabar dari keluarga di Jakarta. Kali ini, ibunda yang menelepon sembari mengeluhkan sakit di bagian dada.

Setelah dibawa ke Rumah Sakit Hermina Jatinegara untuk pemeriksaan, dokter mendiagnosis sang ibunda mengidap kanker payudara dan harus segera dioperasi.

“Setelah dioperasi ternyata belum terangkat semuanya dan harus dilakukan operasi kedua. Saat operasi pertama itu saya tidak bisa menemani ibu karena masih harus menjalankan kewajiban saya di Banjarmasin bersama Barito Putera.”

[Gambas:Video CNN]

Namun, Tuhan selalu punya rencana terbaik. Operasi kanker payudara kedua dilakukan ketika Barito Putera menggelar pemusatan latihan di Jakarta sehingga Ferdy bisa menemani ibunda melewati proses operasi.

“Operasi kedua itu payudaranya sebelah diangkat semua. Sekarang terus pemulihan, kemoterapi jadi saya coba bantu untuk terus menguatkan ibu kalau memang ini semua sudah jalan-Nya,” ungkapnya.

Tak pernah terbersit dalam pikiran Ferdy jika kontrak kerja profesional pertamanya bakal mengubah hidupnya secara drastis. Siapa sangka uang hasil kerja keras pertamanya bakal digunakan untuk menopang hidup keluarganya.

Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, Ferdy memiliki tanggung menggantikan posisi sang ayah sebagai kepala keluarga. Terlebih sang adik kini masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.

“Kalau lagi sendiri suka kepikiran juga, sempat nangis apalagi kan posisinya jauh. Saya di Banjarmasin, keluarga di Jakarta. Ibu bilang ke saya, ‘fokus saja di sana [Barito Putera], tidak usah pikirkan yang di sini [keluarga di Jakarta]’. Ibu bilang ‘semangat latihan, kejar cita-cita abang’. Memang sudah jalannya, ya sudah sabar saja,” ujar Ferdy.

Kini kompetisi berhenti akibat dampak dari pandemi wabah virus corona. Alhasil, Ferdy hanya menerima gaji 25 persen dari nilai yang tertera di kontrak sesuai dengan kebijakan PSSI.

Cukup tidak cukup, Ferdy harus bisa menggunakannya dengan bijak untuk membantu keluarga dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Mau tidak mau sekarang saya jadi tulang punggung keluarga. Pas bapak di PHK, saya sudah dibilangin kalau sekarang saatnya saya yang cari penghasilan buat keluarga,” sebut pemain berposisi gelandang yang 24 April lalu genap berusia 20 tahun.

Ayah Ferdy sempat menekuni pekerjaan sebagai ojek online usai terkena PHK. Tetapi sebulan terakhir pekerjaan itu sudah tidak dilakukan karena takut terpapar virus corona oleh penumpang yang dibawanya.




GIF Banner Promo Testimoni

Meski sakit, sang ibu juga tidak mau kalah dengan keadaan. Menjelang Hari Raya Idul Fitri ini, sang ibu tetap melakoni bisnis tahunan berjualan kue lebaran yang dipesan kerabat dan tetangga.

“Saya pasti orang pertama yang bantu ibu bikin kue. Ibu yang adonin bahan-bahan, nanti saya yang bentuk kue sampai di panggang,” kata Ferdy.

Dorongan semangat dari keluarga membuat Ferdy mengaku lebih termotivasi untuk menjadi lebih baik setiap harinya. Ia yakin, di setiap keadaan yang dilaluinya pasti ada hikmah yang bisa diambil.

Mimpi besar lain justru kini ada dalam benak Ferdy. Selain berusaha supaya bisa masuk di Timnas Indonesia, ia juga ingin membanggakan orang tua lewat sepak bola.

“Saya mau banggain orang tua sebagai pemain bola. Saya mau naikin orang tua saya haji atau minimal umroh. Itu motivasi saya saat ini,” ujarnya. (TTF/jal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here