Bak Raja Namrud: Pesta Korupsi Kader PDIP Diazab Tuhan, Selamatkah “Banteng” di 2021?

0
156

Menurut hikayat Raja Namrud punya harta berlimpah. Bala tentaranya kuat dan sangat banyak. Juga istana megah. Semua ini bikin Raja Namrud lupa diri. Dia sombong dan arogan. Merasa bisa melakukan apa saja.

Dan jatuhlah azab Tuhan!

Hikayat Raja Namrud ini mirip-mirip PDIP-lah. Pasca menang Pemilu 2 kali, tabiat buruk PDIP menjadi-jadi. Bak Raja Namrud, PDIP terkesan merasa bisa melakukan apa saja di negeri ini.

Tilik saja korupsi Harun Masiku. Itu bentuk korupsi pertama dalam sejarah pasca penetapan pemenang pemilu di Indonesia. Kenapa Harun Masiku berani? Apa gara-gara dia merasa bisa berlindung di bawah tanduk Partai Banteng?

Sampai sekarang Harun Masiku belum ditangkap. Banyak rumor. Salah satunya: Harun Masiku sudah mati. Dia dibunuh untuk melindungi rahasia terkelam PDIP. Dia dibunuh untuk menyelamatkan Hasto Kristiyanto yang menjadi otak bentuk korupsi baru itu. Ngeri sekali bila rumor ini benaran.

Namun, kekuasaan PDIP agaknya sukses meredam tsunami kasus ini.

Kemudian PDIP menjadi-jadi. Lantas, Indonesia heboh oleh RUU Haluan Ideologi Pancasila yang justru merusak subtansi Pancasila. Berlanjut RUU Cipta Kerja yang menuai unjuk rasa berjilid-jilid. Tidak putus di sana, pada rezim kali ini ulama dan aktivis prodemokrasi terkesan “dihabisi”

Namun, Tuhan tidak bisa “diakali”. Salah-benar  tidak bisa disurukkan dari mata Tuhan. Dan azab pun turun! Dibayar kontan akhir tahun ini.

Dua kepala daerah dari PDIP: Wenny Bukamo dan Ajay Priatna, diciduk KPK gara-gara korupsi. Andreau Pribadi Misata, Kepala Biro Data dan Informasi Badan Kebudayaan Nasional PDIP, tersangkut korupsi ekspor benih lobsters. 

Yang paling mengerikan tentu korupsi Mensos Juliari Batubara yang juga wabendum PDIP. Keji benar! Masak dana bansos dikorupsi ketika rakyat sedang susah gara-gara pandemi. 

Hitung-hitungan kasar, korupsi Juliari Batubara mencapai setidaknya Rp 216 miliar. Tapi, ada dugaan, korupsi Juliari sebenarnya lebih besar lagi.

Bahkan berdasarkan penelusuran Majalah Tempo, ada indikasi uang korupsi itu mengalir ke sejumlah fungsionaris PDIP. Nama Puan Maharani puteri Megawati, dan Gibran Rakabumi—putra Jokowi, turut tersangkut. Juga disoal pimpinan komisi di DPR dari PDIP, dan jatah seorang ketua komisi di DPR dan anggota BPK.

Duit itu diduga juga mengalir untuk pemenangan beberapa calon dalam pemilihan kepala daerah yang baru usai.  PDIP mengusung delapan pasangan calon (paslon) pemilihan gubernur (pilgub), 214 paslon pemilihan bupati (pilbup), dan 34 paslon pemilihan wali kota (pilwakot). Siapakah yang sebentar lagi diciduk KPK? Berapa banyak lagi?

Dengan meluasnya jaring-jaring korupsi bansos ini, tentu KPK tidak boleh berhenti pada Juliari Batubara. Pengusutan harus dituntaskan hingga ke akar-akarnya.

Akankah PDIP selamat dari azab Tuhan? Kalau Raja Namrud jelas tidak!

Oleh: Hendra Priyana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here