Buzzer Istana, Dibiayai Rakyat Untuk Melawan Rakyat

0
227

Rubrik Indonesia – Di awal tahun 2021, publik dihebohkan dengan beredarnya foto Presiden Jokowi dan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko yang dikelilingi para buzzer yang ‘dibina’ oleh Moeldoko. Di antaranya, Abu Janda, Denny Siregar, Eko Kuntadhi, dan Dewi Tanjung.

Merespon beredarnya foto tersebut, istana, melalui Jubir Istana, Fadjroel Rahman, membantah tuduhan tersebut, dengan menyebut itu foto lama, sebelum Pilpres periode pertama Jokowi.

Namun selang beberapa hari, salah seorang yang ada di foto tersebut, Denny Siregar –Densi, biasanya disapa, dengan bangga malah membenarkan kehadiran buzzer istana dan bangga mengakui dirinya buzzer istana. Densi pun merasa bangga jika dipanggil Buzzer.

“Buzz itu dengung. Buzzer itu pendengung. Mirip lebah. Bersama, bersatu, mempertahankan sarang. Menyerang ketika diperlukan. Dan para buzzer, sepertu gua, baru keluar ketika para kadal ingin menguasai dunia. Siapa lagi yang mau melawan keganasan kadal? Para domba? (ikon tertawa),” tulis Denny di akun twitternya.

“Sebenarnya tudingan buzzerRp itu muncul krn suara mereka kalah di media sosial. Pendukung @jokowi itu mmg seperti lebah. Tenang ketika tidak diganggu dan tampak tidak kelihatan. Tapi ketika ada yg mau merusak sarang, bzzzzzz… Bang jago aja ampun2. Wajahnya bentol2,” bunyi cuitan lainnya.

Namun, banyak kalangan menyayangkan kehadiran buzzer binaan istana. Apa sebabnya?

Perbudakan modern politik istana

Melalui video berjudul “Buzzer itu Perbudakan Modern Politik Istana” yang tayang dalam saluran YouTube Rocky Gerung Official, Rocky yang menyebut buzzer adalah budak politik istana.

“Ini (sambil memperlihatkan foto Jokowi dan Abu Janda cs) kan bagian jejak digital, walaupun istana membantah itu sebelum Pilpres 2019, tapi tetap saja persepsi yang muncul di benak publik ada hubungannya,” ujar Hersubeno Arief mengawali pembahasan.

Rocky Gerung menimpali dengan menggambarkan foto Jokowi dan Abu Janda itu layaknya peternakan politik. “Orang-orang dalam foto terlihat feodalistik,” tegas Rocky Gerung.

Mengomentari soal itu pula, Rocky Gerung bahkan menyebut buzzer merupakan bukti adanya bentuk perbudakan politik. “Saya melihat bahwa yang digambarkan semacam peternakan politik, karena berjajar di situ, ternak. Jadi ada peternakan buzzer dan wajah-wajah di belakang, Presiden, Moeldoko, segala macam, itu wajah yang terlihat feodalistik,” sahut Rocky Gerung.

Dijamin akses politik, uang dan kekebalan hukum

Senada dengan Rocky Gerung, Pengamat politik Muhammad Mualimin menambahkan, kenapa buzzer itu tidak pernah mendapat sangsi pidana walau jelas-jelas melanggar hukum, “Karena buzzer sengaja dipelihara rezim dan kesetiaan mereka dijamin dengan tiga hal yaitu akses politik, uang, dan kekebalan hukum,” ucapnya di Jakarta, Senin (12/7/2021).

Para buzzer seperti Denny Siregar, Dewi Tanjung, Eko Kuntadhi, Abu Janda, dan Dede Budhyarto, dan sejenisnya, diberi kebebasan berpendapat tanpa harus khawatir terjerat UU ITE.

Mualimin menambahkan, buzzer sengaja dibiarkan sebagai corong media sosial pemerintah. “Buzzer itu menjadi tawon politik yang menyengat siapa pun pengkritik penguasa,” tutupnya.

Saat ditanya Hersubeno Arief, apakah hal demikian muncul karena mentalitas budak atau saling membutuhkan, Rocky Gerung tegas menyebut, adanya simbiosis mutualisme.

“Saling membutuhkan, sebab kalau tuan-nya lobus frontalisnya (secara terbuka, berhadap-hadapan) sempurna, dia gak punya budak. Demikian juga budak kalau lobus frontalisnya sempurna, dia gak mau diperbudak,” Rocky Gerung menjelaskan.

“Ini bertemu simbiosis politik antara pengasuh budak dengan budak politik. Ini yang akan diingat orang. Indonesia pernah mengalami perbudakan padahal perbudakan peristiwa di Amerika berakhir 200 tahun lalu. Demokrasi tidak mengehendaki perbudakan tapi kesetraaan informasi,” tandasnya.

Rocky Gerung, kemudian menyoroti pemerintah yang menurutnya tidak membalas argumen orang, tetapi justru mudah memenjarakan dan melaporkan ke Bareskrim Polri.

Foto Presiden Jokowi dan Kepala KSP Moeldoko itu pertama kali diunggah EnggalPMT dan viral di dunia maya. Pemilik akun tersebut juga menuliskan ‘Kabinet Kolam Buntek’ pada foto yang diunggahnya.

“Susunan Kabinet Kolam Butek. Dibiayai oleh APBN dengan judul siluman,” kicau EnggalPMT .

Jadi, jangan pernah berharap para buzzer binaan KSP Moeldoko tersebut akan dijerat hukum walaupun melanggar hukum, mereka dilindungi dan punya kekebalan hukum, walaupun mereka kerap melanggar hukum dan nyata-nyata dibayar oleh uang rakyat. (PIN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here