Deepfake Tak Sekadar untuk Iseng, tapi Teknologi Masa Depan

0
3

 

MBN
Para penonton di Korea Selatan sebelumnya diberi tahu tentang deepfake Kim Joo-Ha, seperti yang muncul dalam gambar ini.

 

Beberapa bulan yang lalu, jutaan pemirsa televisi di Korea Selatan menonton saluran MBN untuk mendapatkan berita terbaru. Pada jam-jam sibuk, penyiar berita Kim Joo-Ha mulai membacakan berita utama hari itu.

Daftar beritanya relatif normal untuk akhir 2020, penuh dengan COVID-19 dan perkembangan terbaru tentang penanganan pandemi tersebut.

Namun, buletin yang satu ini jauh dari normal, karena sebenarnya bukan Kim Joo-Ha yang tampil di layar. Dia telah digantikan oleh versi “deepfake” dari dirinya sendiri – salinan buatan komputer yang berusaha meniru suara, gerak tubuh, dan ekspresi wajahnya dengan sempurna.

Para pemirsa telah diberi tahu bahwa ini akan terjadi, dan media Korea Selatan melaporkan bahwa orang-orang memberi tanggapan beragam setelah menontonnya.

Sebagian orang takjub pada betapa realistisnya tiruan itu, sebagian yang lain mengatakan mereka khawatir Kim Joo-Ha yang asli akan kehilangan pekerjaannya.

MBN mengatakan akan terus menggunakan deepfake untuk beberapa laporan breaking news, sementara perusahaan di balik teknologi kecerdasan buatan (AI) itu – perusahaan Korea Selatan Moneybrain – mengatakan mereka akan mencari media lain yang berminat di China dan AS.

Saat kebanyakan orang mendengar deepfake, mereka membayangkan video palsu selebritas. Bahkan, baru minggu lalu video asli-tapi-palsu semacam itu yang menampilkan wajah aktor Hollywood Tom Cruise menjadi berita utama di seluruh dunia setelah muncul di TikTok.

Terlepas dari konotasi negatif seputar istilah deepfake (orang biasanya tidak ingin dikaitkan dengan kata “palsu”), teknologi ini semakin banyak digunakan secara komersial.

Lebih sopan disebut AI-generated video, atau media sintesis, penggunaannya berkembang pesat di berbagai sektor termasuk berita, hiburan dan pendidikan, dengan teknologi yang semakin canggih.

Salah satu perusahaan komersial yang pertama kali mengadopsinya adalah Synthesia, perusahaan berbasis di London yang membuat video pelatihan yang didukung kecerdasan buatan (AI) untuk perusahaan periklanan global seperti WPP dan konsultan bisnis Accenture.

“Ini adalah masa depan pembuatan konten,” kata kepala eksekutif dan salah satu pendiri Synthesia, Victor Riparbelli.

Untuk membuat video dengan AI menggunakan sistem Synthesia, Anda cukup memilih satu dari sejumlah avatar, ketikkan kata-kata yang Anda ingin mereka katakan, selesai.

 

Platform deepfake Synthesia

Synthesia
Pengguna Synthesia memilih dari sejumlah avatar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here