Jakarta, Rubrik Indonesia —

TikTok membantah telah membagikan data pengguna di India kepada China. Hal itu menanggapi kebijakan pemerintah India yang melarang TikTok dan puluhan aplikasi China karena masalah privasi.

TikTok mengaku mematuhi keputusan otoritas India. Akan tetapi, TikTok berencana menemui mereka untuk mendapat kesempatan menanggapi dan memberi klarifikasi.

“TikTok terus mematuhi semua persyaratan privasi dan keamanan data menurut hukum India dan belum membagikan informasi pengguna kami di India dengan pemerintah asing mana pun, termasuk pemerintah China,” kata pimpinan TikTok di India, Nikhil Gandhi melansir Financial Express, Selasa (30/6).

TikTok adalah salah satu dari 59 aplikasi asal China yang telah dilarang oleh pemerintah India karena masalah privasi.

Lebih tepatnya, semua aplikasi itu telah dianggap sebagai ancaman keamanan nasional karena diduga terlibat dalam kegiatan yang merugikan kedaulatan dan integritas, pertahanan, keamanan negara, dan ketertiban umum India

Pemerintah India mengaku telah mendapat dukungan yang kuat dari warganya untuk mengambil tindakan tegas terhadap aplikasi yang merusak kedaulatan serta privasi warga negara India.

“Pemerintah India telah memutuskan untuk melarang penggunaan aplikasi tertentu, yang digunakan pada perangkat yang mendukung Internet untuk seluler dan non-seluler,” tulis Kementerian Teknologi Informasi India.

Sesuai dengan keputusan itu, Google dan Apple diwajibkan menghapus TikTok dan aplikasi lain yang dilarang dari Play Store dan App Store India. Sedangkan untuk warga India, belum ada konsekuensi jika menentang larangan dan tetap menggunakan salah satu aplikasi yang dilarang karena pemerintah belum menyatakan ilegal.

Namun, pemerintah India telah menyarankan warganya untuk tidak menggunakan seluruh aplikasi yang dilarang demi keamanan privasi.

Melansir Hindustan Times, TikTok mengklaim tidak akan membagikan data kepada siapapun sampai kapanpun. Mereka menyatakan mengutamakan privasi para penggunanya.

“Lebih lanjut jika kita diminta untuk di masa depan, kita tidak akan melakukannya. Kami mengutamakan privasi dan integritas pengguna,” ujar Nikhil.

Nikhil meyakini TikTok masih memiliki peluang untuk kembali beroperasi di India. Sebab, perusahaan itu menilai larangan pemerintah India bersifat sementara.

“TikTok telah mendemokratisasi internet dengan membuatnya tersedia dalam 14 bahasa India, dengan ratusan juta pengguna, artis, pendongeng, pendidik dan pengguna yang bergantung pada TikTok untuk mata pencaharian mereka. Banyak dari mereka adalah pengguna internet pertama kali,” ujarnya.

Kebijakan melarang TikTok dkk diduga memiliki kaitan dengan ketegangan antara India dan Cina atas sengketa perbatasan di Ladakh yang menyebabkan konfrontasi mematikan 15 Juni di Lembah Galwan.

Selain itu, larangan terhadap TikTok dkk dikabarkan telah dipertimbangkan sejak beberapa minggu. Dewan Keamanan Nasional dan badan intelijen India pun memberi dukungan atas langkah tersebut.

Bocorkan Data Pengguna iPhone

TikTok diketahui ketahuan mengakses data dari clipboard  (papan klip) pengguna Apple. Hal ini terungkap dari fitur baru transparansi keamanan di iOS 14 yang memberi tahu pengguna apabila ada akses yang mencurigakan

Pembaruan itu mengungkap platform video asal China itu mengakses data dari clipboard. Praktik ini sesungguhnya telah diketahui sejak Maret lalu.

TikTok sempat mengatakan akan berhenti mengakses data clipboard. Tiga bulan berselang, tepatnya setelah iOS 14 beta diluncurkan, TikTok masih mengakses data tersebut.

Pendiri Emojipedia, Jeremy Burge, menunjukkan seberapa sering TikTok mengakses clipboard iPhone dalam sebuah video pendek yang diunggah di Twitter.

Pada bulan Februari, dua pengembang perangkat lunak menemukan masalah dalam sistem copy-paste iOS Apple yang dapat membuat informasi sensitif menjadi rentan.

Tommy Mysk, salah satu pengembang mengatakan masalah sudah diperbaiki dengan fitur keamanan baru dalam bentuk peringatan dan notifikasi yang menginformasikan pengguna ketika aplikasi membaca clipboard iPhone.

Fitur itu telah mengekspos praktik pengintaian beberapa aplikasi, di antaranya adalah AccuWeather, AliExpress, Call of Duty Mobile, Google News, Overstock, Patreon, dan TikTok.

Dilansir dari The Verge, juru bicara TikTok mengatakan pihaknya telah mengirimkan pembaruan ke App Store untuk menghapus fitur pengaksesan clipboard tersebut. Dia menyebut fitur itu untuk ‘anti-spam’.

Namun, TikTok mengakui fitur itu tidak pernah diperkenalkan ke perangkat Android.

“Setelah rilis beta 14 iOS pada 22 Juni, pengguna melihat pemberitahuan saat menggunakan sejumlah aplikasi populer. Untuk TikTok, ini dipicu oleh fitur yang dirancang untuk mengidentifikasi perilaku berulang yang bersifat spam,” kata juru bicara TikTok.

(jps)

[Gambas:Video CNN]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here