Jakarta, Rubrik Indonesia —

Ahli Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani, mengatakan kemungkinan mutasi Covid-19 yang dinyatakan 10 kali lebih cepat menular ada di Indonesia. Varian mutasi ini bernama D614G.

Laura menyatakan ketiadaan pembatasan mobilitas bisa menyebabkan mutasi tersebut tiba di Indonesia. Di sisi lain, Laura menyatakan mutasi ini juga dapat muncul sendiri di Indonesia sebagai respons atau adaptasi virus di dalam inang (host).

“Bisa saja [ada di Indonesia] karena mobilitas untuk saat ini tidak dibatasi bisa menjadi kasus impor virus SARS-CoV-2 dengan mutasi D614G,” kata Laura saat dihubungi Rubrikindonesia.com, Sabtu (22/8).

Menurut Laura, dibutuhkan identifikasi Whole Genome Sequencing (WGS) khususnya pada kelompok pasien Covid-19 dengan gejala berat untuk memastikan apakah mutasi D614G telah tiba di Indonesia.

Apabila dinyatakan mutasi itu ada dan merupakan varian dominan di Indonesia, Laura menyarankan agar mutasi ini menjadi pertimbangan untuk pembuatan vaksin maupun obat agar bisa efektif melawan virus.

Sebab, vaksin dan beberapa obat antivirus yang sedang dikembangkan saat ini akan menargetkan protein spike D614G untuk mencegah virus berkaitan dengan reseptor. Sehingga, mutasi besar pada protein spike dapat mencegah kedua pengobatan itu bekerja.

“Jika ada dan ternyata dominan di Indonesia maka harus menjadi perhatian atau pertimbangan untuk pembuatan vaksin dan obat sehingga juga mampu secara efektif melawan jenis virus dengan mutasi D614G,” tutur Laura.

Di sisi lain, mutasi ini tidak mengubah domain pengikat reseptor (RBD) di ujung protein spike meskipun mutasi D614G terjadi pada protein spike virus. RBD mengikat reseptor ACE2 pada sel manusia. Intinya, mutasi D614G mengubah protein lonjakan, tetapi tak mengubah bagian RBD yang kritis untuk pengembangan vaksin.

Lebih lanjut, Laura menjelaskan karakteristik virus SARS-CoV-2 masih dinamis dan bisa berubah sewaktu waktu karena kemampuan virus untuk beradaptasi di dalam inang manusia.

Virus mampu mengubah susunan genetik virus untuk menghindari sistem imun.

“Bisa saja akan ditemukan kumulasi dari mutasi yang virus ini dan mengubah kekuatan atau karakteristik dari virus,” kata Laura.

Sebelumnya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan virus corona varian D614G yang 10 kali lebih cepat menularkan Covid-19 ini belum terdeteksi di Indonesia.

Berdasarkan data yang dikirimkan ke GISAID, mutasi itu belum masuk ke Indonesia. Di sisi lain, LIPI menyatakan mutasi belum dapat dipastikan sudah masuk ke Indonesia atau belum.

Kepala Laboratorium Rekayasa Genetika Terapan dan Protein Desain LIPI, Wien Kusharyoto menyebut untuk mengetahui perihal infeksi virus corona dengan mutasi D614G di Indonesia perlu dilakukan WGS Covid-19 asli Indonesia yang lebih banyak.

(jnp/stu)

[Gambas:Video CNN]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here