Jakarta, Rubrik Indonesia —

Kopi Sunyi merupakan kedai yang terkenal ramah bagi para difabel. Betapa tidak, konsep kedai kopi kekinian yang ramai dikunjungi anak muda ini seluruhnya mempekerjakan para difabel.

Pemilik kedai Mario mengatakan semua yang ada di Kopi Sunyi melibatkan teman difabel, mulai dari menu sampai desain interior.

“Semua yang di Kopi Sunyi dari juru parkir, barista, chef, media sosial itu teman-teman difabel. Kita juga partner bareng 30 komunitas Jakarta,” ujar Mario.

Ia bercerita, awal merintis bisnis ini tidak semudah membuka kedai kopi pada umumnya.

“Dari awal mau bikin Kopi Sunyi udah susah. Sulit sekali cari mentor, untuk jadi social-entrepreneur. Pas cari partner, dengar mau bikin tempat ngopi yang pekerjanya semua difabel, mereka tertawa. Dibilang, ‘Idenya berlebihan, Indonesia belum siap’, kata mereka,” kenang Mario.

Tapi itu tak membuat Mario berhenti terus usaha. Dia optimistis suatu saat membuka kedai yang bisa memberdayakan teman-teman difabel di sekelilingnya. Mario mulai dengan mempelajari bahasa isyarat, braille, sampai ngumpul bareng difabel.

“Mereka orang yang selalu berjuang, ketika ada orang yang mau menolong, tentunya mereka berhati-hati. Makanya begitu kita udah temenan dan tahu isi hati masing-masing, baru aku tanyain, apa mereka mau bantu kalau aku membuat usaha untuk mereka,” ujarnya.

Benar saja, tak lama kemudian ia berhasil mendirikan kedia kopi yang punya menu andalan Es Kopi Susu Sunyi itu. Namun ada saja kejadian tak terduga sesaat setelah Kopi Sunyi dibuka.

“Oh, banyak cerita. Secara marketing kan kita nggak pernah sebut kita coffeeshop difabel, hanya ‘Kopi Sunyi yang penuh harapan’. Nah, pernah ada pelanggan datang ngomel, ‘Barista lemot ditanya nggak jawab!”

“Lalu kami jawab, ‘Maaf, Pak, ada tulisannya di sini.’ Pelanggan mungkin ngerasa nggak enak, langsung menjawab ‘Ooh, maaf maaf saya nggak tahu.’

Dari kejadian itu, sekarang mereka malah sahabatan. Pelanggan sering jemput barista buat main game bareng. Bahkan mereka sampai bikin komunitas game.

Dalam kondisi pandemi seperti ini, Mario mengaku penjualan memang sempat terhenti. Tapi ia tetap mengedukasi teman-teman di Kopi Sunyi untuk mematuhi dan menjalankan protokol kesehatan, sekaligus membiasakan mereka untuk menjalankan bisnis kopi dengan Grab.

“Mereka bisa jadi duta buat sesama teman difabel, apalagi akses informasi mereka terbatas. Mereka sempat tanya, “Apa itu lockdown?”. Jadi sampai hari ini masih terus edukasi, termasuk bagaimana mengubah offline jadi online pakai GrabFood supaya Kopi Sunyi bisa #TerusUsaha dan bisa donasi, bantu difabel lainnya yang kesulitan saat ini,” ujarnya.

(fef)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here