Jakarta, Rubrik Indonesia — Perhitungan umur Planet Bumi telah dilakukan sejak 400 tahun terakhir oleh para ilmuwan di seluruh dunia berdasarkan perubahan permukaan laut, waktu yang dibutuhkan Bumi atau Matahari untuk mendinginkan suhu saat ini, dan salinitas laut.

Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam yang larut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah.

Selama melakukan proses pengukuran, para ilmuwan mesti menghadapi masalah yang disebut Great Unconformity, di mana lapisan batuan sedimen tampak hilang. Misalnya di Grand Canyon, setidaknya ada 1,2 miliar tahun batuan yang tidak dapat ditemukan.

Menurut salah satu penelitian yang dihimpun Space.com, penelitian menunjukkan bahwa memasuki fase global ice age, gletser (bisa disebut glasier, sebuah bongkahan es di atas permukaan tanah yang merupakan akumulasi endapan salju yang membantu selama kurun waktu tertentu) menggiling ke dalam batuan kemudian mengalami kehancuran.

Lempeng tektonik melemparkan batu yang berasal dari gletser itu kembali ke dalam Bumi, menghilangkan bukti bebatuan lama, dan mengubahnya menjadi batu baru.

Pada awal abad ke-20, ilmuwan menyempurnakan proses penanggalan radiometrik (teknik yang digunakan untuk mengetahui usia pada benda yang mengandung isotop radioaktif alami). Penelitian mereka menunjukkan bahwa isotop dari beberapa unsur radioaktif itu membusuk menjadi unsur lain pada tingkat yang dapat diprediksi.

Dengan memeriksa unsur-unsur yang ada, para ilmuwan dapat menghitung kuantitas awal unsur radioaktif dan berapa lama untuk unsur tersebut membusuk. Saat ini, batuan tertua di Bumi ditemukan di Acasta Gneiss, Kanada bagian barat laut dekat Great Slace Lake. Batu ini berusia 4,03 miliar tahun.

Sebetulnya banyak batuan di beberapa negara yang berusia miliaran tahun. Misalnya di Greenland, ada batu Supracrustal Isua yang berumur 3,8 miliar tahun.

Di Benua Australia, gabungan peneliti sempat menemukan butiran mineral tertua di Bumi. Butiran mineral ini disebut Kristal Silikat Zirkonium berumur 4,3 miliar tahun dan menjadikannya sebagai bahan tertua yang ditemukan di Bumi sejauh ini.

Zirkonium sendiri merupakan logam putih keabu-an yang jarang dijumpai di alam bebas. Ia memiliki lambang kimia Zr, nomor atom 40, dan massa atom relatif 91,224.
Untuk menentukan umur Bumi tidak hanya diambil dari sampel yang ada di dalam Bumi saja, namun juga menggunakan sampel dari luar angkasa.

Seorang ahli geokimia dari California Institute of Technology, Clair C Patterson mengukur komposisi isotop timbal dari meteorit Canyon Diablo dan beberapa potongan batuan antariksa lainnya. Ia meyakini bahwa potongan-potongan batuan tersebut merupakan bahan saat Bumi terbentuk.

Namun Patterson mengatakan bahwa banyak orang yang mengabaikan riset buatannya itu.

“Tidak ada yang peduli tentang itu. Bahkan hari ini, orang tidak peduli berapa umur Bumi,” kata dia dikutip Science How Stuff Works.

Sementara itu sampel yang dibawa dari misi Apollo dan Luna mengungkapkan usia Bumi antara 4,4 miliar atau 4,5 miliar tahun. Hal ini berdasarkan benda langit dekat Bumi yaitu Bulan yang tidak mengalami proses pelapisan ulang sejak pertama kali Bulan terbentuk.

Kendati demikian, proses pembentukan sampai saat ini masih menjadi perdebatan namun sebagian ilmuwan meyakini bahwa Bulan terbentuk dari ada benda seukuran Mars menabrak Bumi lalu fragmen-fragmen itu menyatu menjadi Bulan.

Sebagai perbandingan, Galaksi Bimasakti yang berisi tata surya berusia sekitar 13,2 miliar tahun. Sementara alam semesta sendiri telah berusia 13,8 miliar tahun.

(din/DAL)

[Gambas:Video CNN]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here