Iran Klaim Senapan Mesin Punya Kecerdasan Bunuh Ilmuwan Nuklirnya

0
14

Senapan mesin yang dikendalikan satelit dengan kecerdasan buatan digunakan untuk membunuh ilmuwan nuklir Iran, kata seorang komandan Garda Revolusi.

Mohsen Fakhrizadeh tewas terbunuh dalam sebuah konvoi di luar Tehran pada 27 November.

Komandan Garda Revolusi Ali Fadavi mengatakan kepada media lokal bahwa senjata, yang dipasang di truk pick-up, mampu menembak ke arah Fakhrizadeh tanpa mengenai istrinya yang berada di sampingnya.

Akan tetapi, klaim tersebut tidak dapat diverifikasi.

Iran menyalahkan Israel dan kelompok oposisi atas serangan itu. Namun Israel tidak membenarkan atau menyangkal bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Bagaimana Fakhrizadeh terbunuh?

Pihak berwenang Iran telah mengeluarkan laporan yang saling bertentangan tentang bagaimana ilmuwan itu ditembak mati saat dia melakukan perjalanan dengan mobil melalui kota Absard.

Pada hari serangan terjadi, kementerian pertahanan mengatakan ada baku tembak antara pengawal Fakhrizadeh dan beberapa pria bersenjata.

BBC

Satu laporan Iran mengutip para saksi yang mengatakan bahwa “tiga sampai empat orang, yang dikatakan teroris, tewas”.

Sebuah mobil pick-up Nissan juga disebut-sebut meledak di tempat kejadian.

Dalam pidatonya di pemakaman Fakhrizadeh, kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengatakan itu sebenarnya serangan jarak jauh, menggunakan “metode khusus” dan “peralatan elektronik”. Tapi dia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Fadavi yang merupakan wakil komandan Garda Revolusi, mengatakan dalam sebuah upacara di Teheran pada hari Minggu bahwa senapan mesin yang dipasang pada pick-up Nissan itu “dilengkapi dengan sistem satelit cerdas” dan “menggunakan kecerdasan buatan”.

 

A handout photo made available by Iranian state TV shows the scene of the killing of Iranian nuclear scientist Mohsen Fakhrizadeh (27 November 2020)

EPA
Sebuah senapan mesin yang dikendalikan dari jarak jauh menembakkan 13 peluru ke mobil Mohsen Fakhrizadeh, menurut Ali Fadavi.

 

Senapan mesin itu “hanya terfokus pada wajah martir Fakhrizadeh sedemikian rupa sehingga istrinya, meskipun hanya berjarak 25 cm, tidak ditembak”, katanya.

Jenderal itu menegaskan bahwa tidak ada penyerang manusia yang ada di tempat kejadian, dengan mengatakan bahwa “total 13 peluru ditembakkan dan semuanya ditembakkan dari [senjata] di Nissan”.

Empat peluru menghantam kepala keamanan Fakhrizadeh “saat dia berupaya menyelamatkan” ilmuwan itu, tambahnya.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah berjanji untuk membalas pembunuhan tersebut, menuntut “hukuman definitif” dari mereka yang berada di belakangnya.

Pada Jumat, radio Israel melaporkan bahwa pejabat keamanan Israel telah memperingatkan beberapa mantan ilmuwan nuklir untuk berhati-hati. Mereka dulu bekerja di reaktor di Dimona, sebuah situs nuklir rahasia di gurun Negev.

Pemerintah Israel tidak mengomentari laporan itu, yang muncul sehari setelah kementerian luar negeri Israel mengatakan kepada warga Israel yang bepergian di Timur Tengah dan Afrika untuk waspada sehubungan dengan apa yang disebut ancaman dari “elemen Iran”.


 

Analysis box by Zoe Kleinman, technology reporter

BBC

 

Klaim yang dibuat tentang serangan yang dilakukan dengan menggunakan senjata canggih berteknologi tinggi itu sama mengkhawatirkannya seperti halnya distopia.

Perlu ditekankan bahwa klaim itu belum diverifikasi oleh siapa pun.

Penggunaan kecerdasan buatam dalam konflik adalah konsep yang mengkhawatirkan banyak ilmuwan selama beberapa waktu.

Pada 2015, mendiang Profesor Stephen Hawking adalah salah satu dari 1.000 ilmuwan yang menandatangani surat terbuka yang menyerukan larangan pengembangan kecerdasan buatan untuk penggunaan militer.

Namun, pada kesempatan ini, klaim Iran itu disambut dengan skeptis.

Analis Tom Withington, yang berspesialisasi dalam perang elektronik, mengatakan laporan itu harus diperlakukan dengan “sedikit skeptis”, dan menambahkan bahwa deskripsi Iran tampaknya tidak lebih dari kumpulan “kata-kata keren” yang dirancang untuk menunjukkan bahwa hanya kekuatan besar yang mungkin melakukan misi ini.

Profesor Noel Sharkey, anggota Campaign Against Killer Robots, mengatakan konsekuensi pasukan militer yang memiliki akses ke senjata semacam itu akan memiliki “konsekuensi yang tak terbayangkan”.

“Jika perangkat semacam itu bisa beroperasi sendiri, menggunakan pengenalan wajah untuk menentukan dan membunuh orang, kita akan berada di jalur menurun yang sepenuhnya akan mengganggu keamanan global,” katanya.


 

Mengapa ilmuwan itu menjadi target?

 

Mohsen Fakhrizadeh adalah kepala Organisasi Inovasi dan Penelitian Pertahanan Iran, yang dikenal dengan singkatan SPND.

Sumber keamanan Israel dan Barat mengatakan dia berperan penting dalam program nuklir Iran.

Mereka yakin profesor fisika itu memimpin “Proyek Amad”, sebuah program rahasia yang diduga didirikan Iran pada 1989 untuk melakukan penelitian tentang potensi bom nuklir.

Proyek itu ditutup pada tahun 2003, menurut Badan Energi Atom Internasional.

Namun, Perdana Menteri Israel Netanyahu mengatakan pada 2018 bahwa dokumen yang diperoleh negaranya menunjukkan Fakhrizadeh memimpin program yang diam-diam melanjutkan pekerjaan Proyek Amad.

Iran menegaskan program nuklirnya sepenuhnya untuk tujuan damai dan tidak pernah mengembangkan senjata nuklir.

Para analis berspekulasi bahwa pembunuhan Fakhrizadeh tidak dimaksudkan untuk melumpuhkan program nuklir Iran, melainkan untuk mengakhiri prospek AS bergabung kembali dengan kesepakatan nuklir Iran 2015 ketika Presiden terpilih Joe Biden menjabat tahun depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here