Denpasar, Rubrik Indonesia —

I Gede Ari Astina alias Jerinx telah memenuhi panggilan petugas polisi Polda Bali terkait laporan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bali, Kamis (6/8). Drummer band punk Superman Is Dead ini diperiksa terkait unggahan di akun media sosial Instragram-nya yang menyebut IDI sebagai ‘Kacung’ WHO.

Setelah pemeriksaan, kepada wartawan, Jerinx kemudian menjelaskan alasannya mengkritik IDI terutama untuk prosedur tes cepat (rapid test) risiko infeksi virus corona (Covid-19). Ia mengaku menilai prosedur rapid test seolah-olah dipaksakan pemerintah, khususnya rumah sakit dan dokter.

Jerinx menegaskan unggahannya di Instagram adalah pertanyaan kepada IDI dan berharap mendapatkan jawaban dan kejelasan terkait hal tersebut.

“Alasan saya menulis itu adalah akumulasi perasaan empati saya. Kasihan saya kepada rakyat soal prosedur rapid sementara rapid itu tidak akurat. Itu diperkuat oleh pernyataan banyak ahli,” kata Jerinx di Mapolda Bali, Denpasar.

Ia mengatakan, perhimpunan rumah sakit Indonesia pada April lalu sudah mengeluarkan surat edaran yang melarang kewajiban rapid test sebagai syarat layanan kesehatan.

“Jadi sebenarnya RS sudah ada regulasi untuk rakyat yang dipaksa rapid. Tapi, fakta di lapangan berbeda,” ujar Jerinx.

Selama masa pandemi, Jerinx mengaku gelisah membaca berita di media massa maupun media sosial. Ia tak tahan melihat banyak masyarakat yang dipersulit oleh prosedur tes cepat.

“Jadi itu akumulatif dari sebelum saya unggah. Sampai ada meninggal tidak ditangani serius. Belum lagi laporan-laporan dari netizen. Ya itu kalau dikumpulkan sejak pandemi ini mungkin jumlahnya sudah ribuan laporan masuk ke DM [direct message] IG [Instagram] saya,” kata Jerink.

Berbagai pihak menanggapi beragam tentang sepak tentang Jerinx selama pandemi ini. Banyak yang menyayangkan, tak sedikit juga yang memberi dukungan.

Terlepas dari kontroversi yang ditimbulkan, Jerinx mengaku dirinya sebagai anak jalanan yang besar dengan budaya berbahasa ceplas-ceplos. Meski demikian, ia menegaskan tidak pernah memiliki maksud kasar atau menyakiti perasaan pihak-pihak tertentu.

“Kultur saya kan lebih banyak di jalan. Belum lagi profesi saya sebagai musisi, ya saya merasa lebih bebas, lebih merdeka dalam berpendapat atau beropini. Terkait kasar, balik lagi ke masalah persepsi, jika saya berkata A, tapi bagi orang lain itu kasar, padahal yang saya katakan itu biasa saja dalam dunia saya. Tapi apa pun tanggapannya, yang penting jangan lupakan apa esensi substansi yang saya katakan,” kata dia.

(put/kid)

[Gambas:Video CNN]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here