Jakarta, Rubrik Indonesia —

Barcelona dan Lionel Messi memang belum menyerah dalam perburuan gelar Liga Spanyol. Masih ada enam laga untuk mengubah situasi sulit yang mereka alami saat ini.

Sialnya nasib skuad asuhan Quique Setien tidak berada di tangan mereka sendiri. Pengoleksi 26 gelar Liga Spanyol itu mesti berharap Real Madrid tergelincir dan sebaliknya Blaugrana menyapu bersih kemenangan hingga pekan terakhir.

Situasi ini jelas tidak mengenakan buat Barcelona yang memuncaki klasemen sebelum pandemi virus corona membuat Liga Spanyol terhenti untuk sementara. Namun, hanya dalam hitungan lima pertandingan situasi berbalik.

Madrid kini menjadi tim yang diburu, sementara Barcelona bertindak sebagai tim pemburu di sisa musim ini.




Barcelona menempati posisi kedua klasemen sementara Liga Spanyol. (AP/Lalo Villar)

Melihat situasi Barcelona sekarang ini maka tidak ada pemain yang paling sedih di dalam tim selain Lionel Messi. La Pulga yang lebih dari satu dekade terakhir jadi ikon klub harus menerima fakta timnya kini dalam kesulitan.

Messi pantas sedih karena ia sudah memberikan segalanya, termasuk di musim ini. Meski belum sampai ke angka 40 gol atau angka rata-rata gol semusim, Messi tetap berkontribusi maksimal.

Messi merupakan top skor klub dan Liga Spanyol musim ini. Pemain berusia 33 itu sudah mencetak 21 gol atau unggul jauh dari Luis Suarez (13 gol) dan Antoine Griezmann yang baru delapan kali membobol gawang lawan. Bahkan, Messi juga mampu memberikan 17 assist di Liga Spanyol musim 2019/2020.

Statistik itu membuktikan peran penting Messi, terlepas dari rumor perselisihan dengan Griezmann yang terjadi belakangan ini. Messi tetap fokus menghadirkan prestasi buat Barcelona meski harus berjuang seorang diri.

Messi memang tidak lagi mendapatkan ‘kemewahan’ seperti yang ia rasakan sejak Blaugrana dilatih Pep Guardiola. Saat itu, Messi memang sosok pembeda dalam tim tetapi ia juga dibantu rekan setim yang tidak kalah hebat macam Xavi Hernandez dan Andres Iniesta.




Barcelona's Lionel Messi gestures during a Spanish La Liga soccer match between RC Celta and Barcelona at the Balaidos stadium in Vigo, Spain, Saturday, June 27, 2020. (AP Photo/Lalo Villar)Lionel Messi masih menanti gol ke-700 di Barcelona. (AP/Lalo Villar)

Alhasil, kerja Messi di lapangan jadi lebih ringan. Ia hanya perlu fokus mencetak banyak gol agar tim meraih kemenangan.

Setelah era Xavi dan Iniesta, Messi juga punya rekan setim yang tidak kalah hebat yakni Neymar. Bintang asal Brasil itu bisa mengimbangi performa luar biasa Messi setiap musimnya sebelum memutuskan hengkang ke PSG.

Dengan Neymar di lapangan, fokus pemain lawan ikut terbagi. Hal ini menguntungkan buat Messi sehingga tidak banyak pemain lawan yang menjaganya setiap saat.

Belum lagi, Barcelona juga punya Luis Suarez di lini depan. Trio MSN yang berlangsung dari 2014-2017 pernah begitu ditakuti dan berhasil memberikan banyak gelar, termasuk Liga Spanyol dan Liga Champions.

[Gambas:Video CNN]

Kepergian Neymar tidak diikuti dengan perekrutan pemain bintang lain. Manajemen klub hanya mendatangkan Ousmane Dembele, Philippe Coutinho, hingga Griezmann.

Dembele lebih akrab dengan cedera sedangkan Coutinho dan Griezmann tidak tampil sesuai ekspektasi. Dampaknya lini depan Barcelona pincang karena hanya mengandalkan Messi dan Suarez untuk membobol gawang lawan.

Masalah lain yang musim ini terlihat begitu kentara adalah Barcelona lambat dalam melakukan regenerasi pemain. Selain itu, kualitas pemain inti dan cadangan mereka juga timpang.

Barcelona masih terlalu bertumpu pada pemain yang sudah tergolong uzur seperti Gerard Pique (33 tahun), Sergio Busquets (31 tahun), Jordi Alba (31 tahun), hingga Luis Suarez (33 tahun). Padahal di posisi Alba, Barcelona punya Junior Firpo (23 tahun) dan di lini tengah terdapat nama Riqui Puig dan sebelumnya Carles Alena yang dipinjamkan ke Real Betis.




Banner Live Streaming MotoGP 2020

Di bangku cadangan, Barcelona juga tidak punya banyak pilihan pemain yang bisa mengubah situasi pertandingan. Dari sekian banyak pemain hanya pemain muda Ansu Fati yang kerap jadi pembeda di lapangan.

Hal ini berbeda 180 derajat ketimbang sang rival Madrid. Los Merengues punya kedalaman skuad yang jauh lebih baik. Bahkan pemain sekelas James Rodriguez dan Gareth Bale harus rela duduk manis di bangku cadangan karena kalah bersaing dengan pemain lain.

Madrid juga tidak memainkan skuad inti yang itu-itu saja. Pelatih Zinedine Zidane leluasa melakukan rotasi pemain tanpa mengurangi kualitas tim dalam sebuah pertandingan, terutama di fase-fase krusial seperti saat ini dengan jadwal kompetisi yang padat.

Dengan beban berat yang diemban Messi dan skuad yang tidak dalam maka sulit untuk berharap tim Catalan mempertahankan gelar Liga Spanyol untuk kali ketiga beruntun.

(bac)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here