Jakarta, Rubrik Indonesia —

Pendapatan bioskop secara global diproyeksikan bisa anjlok hingga 66 persen karena pandemi virus corona (Covid-19). Riset Global Entertainment & Media Outlook PwC mengungkap pandemi Covid-19 membuat mayoritas bioskop ditutup dan rilis film ditunda sehingga membuat bisnis tersebut megap-megap.

“Selain itu, kecil kemungkinan bahwa persentase tersebut akan meningkat. Karena proyeksi kami, pada 2025 pendapatan bioskop akan berada di level pendapatan 2019,” ungkap riset tersebut, Selasa (15/9).

Di sisi lain, industri video over-the-top atau video daring mengalami lonjakan pendapatan hingga 26 persen pada 2020.

Riset ini mengungkap kesulitan yang terjadi pada industri media dan hiburan memang tidak merata. Segmentasi yang paling terdampak adalah live music, bioskop, hingga pameran dagang.




Suasana simulasi pembukaan dan peninjauan tempat hiburan bioskop XXI di Pusat Grosir Cililitan, Jakarta. Sabtu, 29 Agustus 2020. (Rubrik Indonesia/Adhi Wicaksono)

Tren ini diprediksi akan terus meningkat pada tahun mendatang. Dari sisi valuasi akan meningkat hampir dua kali lipat dari US$46,4 miliar pada 2019 menjadi US$86,8 miliar pada 2024.


Belanja iklan pun terdampak dengan menurun 13,4 persen pada 2020. Sementara itu, pendapatan video langganan on demand tercatat melonjak.

Namun, walau gelombang krisis 2020 akan terus menjalar ke seluruh perekonomian global, PwC memperkirakan pertumbuhan fundamental industri bakal kuat.

“Pada 2015, pendapatan bioskop tercatat tiga kali lipat dari video langganan on demand (SVOD). Namun, sekarang pendapatan SVOD akan melampaui film box office di bioskop dan akan melonjak 5 tahu lagi,” papar riset PwC.

Proyeksi PwC pada 2021 belanja industri media dan hiburan akan tumbuh 6,4 persen dan pertumbuhan pendapatan secara global akan berjalan pada tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 2,8 persen.

“Bukan hanya karena pandemi, kamu juga memperkirakan CAGR Indonesia terhadap industri media dan hiburan dari 2019-2024 akan menjadi yang terbesar di negara Asia Tenggara lain sebesar 5,29 persen,” paparnya.

Chief Digital and Technology Officer PwC Indonesia Subianto memaparkan covid-19 telah meningkatkan permintaan konsumen Indonesia akan industri media dan hiburan.

Indonesia diproyeksi mengalami konsumsi data yang meroket, pertumbuhan smartphone hingga konektivitas internet seluler yang menjadi pendorong utama.

Secara global, di tengah resesi dunia, 2020 diperkirakan menjadi tahun di mana pendapatan industri media dan hiburan turun paling besar selama lebih dari dua dekade. PwC memperkirakan industri ini turun 5,6 persen secara global atau turun sekitar US$120 miliar.

(age/sfr)

[Gambas:Video CNN]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here