Panca Bandingkan Ekonomi Era SBY dan Jokowi

0
7

Rubrik Indonesia – Leadership merupakan sikap yang harus dimiliki oleh pemimpin apalagi seorang kepala negara atau Presiden, agar visinya mampu berjalan sesuai dengan janji-janji kampanye kepada rakyat.

Politisi Partai Demokrat, Cipta Panca Laksana membuat perbandingan antara Presiden Indonesia ke-6 dan ke-7 dalam merealisasikan capaian pada era kepemimpinan kedua Presiden tersebut.

Perbandingan tersebut dibuat dalam bentuk video yang menunjukkan perbandingan masa SBY dan Jokowi. Dalam video tersebut, terlihat perbedaan Gross National Income (GNI) atau pendapatan nasional bruto (PNB) era kepemimpinan SBY dan Jokowi.

Pada 5 tahun awal kepemimpinan SBY,  PNB Indonesia mengalami peningkatan sebesar 99 persen dari semula USD1.080 menjadi USD2.150.

Sementara itu, pada 5 tahun awal kepemimpinan Jokowi, PNB Indonesia hanya mengalami peningkatan sebesar 12 persen saja, yakni dari USD3.620 menjadi USD4.050 saja.

Menanggapi hal tersebut, Cipta Panca menilai bahwa perbandingan ekonomi pada masa kepemimpinan SBY dan Jokowi sangat jomplang.

“Pencapaian ekonomi era SBY dan era orang baik yang didukung orang baik. Jomplang cing,” tulis Panca, pada akun Twitter pribadinya, @panca66 pada Minggu, (01/08/2021).

Lebih lanjut, Panca mengatakan bahwa data perbandingan tersebut sama-sama diperoleh sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia.

Karenanya, menurut Panca Covid-19 tidak bisa dijadikan alasan mengapa pencapain ekonomi  era  Jokowi ebih rendah.

“Jangan loe bilang karena covid ya. Ini hitungan sama2 lima tahun pertama. Belum ada covid,” pungkasnya.

https://twitter.com/panca66/status/1421642014316142598

Postingan Panca yang dikutip dari akun Twitter @Budi_1rawan memang beralasan.

Selama sepuluh tahun masa kepemimpinan SBY, pertumbuhan ekonomi melaju di kisaran 5-6 persen. Pencapaian tertinggi pada 2011 sebesar 6,5 persen dan terendah pada 2009 dengan pertumbuhan ekonomi 4,5 persen. Dan capaian SBY belum bisa diraih oleh Jokowi, hingga hari ini.

Melambatnya pertumbuhan di 2009, dipengaruhi tekanan ekonomi global yang berdampak pada pelemahan rupiah, sebagai buntut dari krisis ekonomi yang terjadi di kuartal akhir 2008. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here