Pemerintah Gagap Tangani Pandemi dan Krisis, Masih Ada Harapan Masyarakat Pada Pemerintah?

0
9

Rubrik Indonesia – Sudah lebih dari satu tahun Pandemi Covid-19 melanda Indonesia, namun upaya pemulihannya jauh dari yang diharapkan, sehingga bisa disebut pemerintah galal dalam tangani pandemi, kegagalan tersebut terjadi akibat Presiden Jokowi dalam menangani pandemi Covid-19.

Direktur Eksekutif Indonesia Future Studies, Gde Siriana Yusuf, dalam artikel opininya dalam yang terbit di Koran Tempo pada edisi 1 Juli 2021, mengindikasikan kegagapan Presiden Jokowi dilihat dari keberhasilan negara–negara lain dalam tangani pandemi.

“Keberhasilan negara – negara lain dalam mengendalikan pandemi tidak terletak pada kehadiran vaksin semata. Kesuksesannya lebih ditentukan oleh perencanaan dan implementasi manajemen krisis yang mampu memadukan prioritas kesehatan dan ekonomi masyarakat,” tulis Gde Siriana Yusuf dalam artikelnya yang berjudul “Pandemi dan Gagapnya Kepemimpinan Jokowi”.

“Dan yang terpenting adalah kemampuan pemerintah dalam memprediksi atau menyediakan proyeksi mengenai gelombang pandemi di masa depan.” Lanjutnya.

Lebih lanjut Gde Siriana Yusuf menjelaskan dibutuhkan manajemen krisis yang andal yang membutuhkan pendekatan ilmiah agar bisa di pertanggungjawabkan prisnsip keilmiahannya.

Manajemen krisis yang andal juga membutuhkan pemimpin yang mampu menjadi teladan, kuat dan kompeten sehingga akan mampu menyelesaikan masalah dengan terstruktur, teratur dan terukur, sehingga rencana dapat di implementasikan sesuai rencana.

“Manajemen krisis yang andal membutuhkan pemimpin yang menjadi teladan, kuat dan kompeten sehingga akan mampu menyediakan indikator terstruktur, teratur dan terukur (3T) pada semua upaya pengendalian pandemi,” papar Gde.

Gde Siriana Yusuf juga menerangkan kegagalan pandemi ini tidak bisa disalahkan masyarakat, dikarenakan pemerintah sendiri diawal kemunculun pandemi malah justru meremehkan, sehingga pemerintah tidak melakukan pendekatan ilmiah dalam menghadapi pandemi diawal kemunculannya kasus Covid-19 di Indonesia.

“Pemerintah tidak bisa menyalahkan masyrakat yang tidak patuh protokol kesehatan. Bagaimanapun, tanggung jawab pemerintah adalah menghadirkan sense of crisis sejak awal kedatangan pandemi. Namun negara justru menganggap remeh pandemi dan tidak menggunakan pendekatan ilmiah untuk menghadapinya.” Ulas Gde.

Gde lalu mencontohkan, kedatangan Presiden ke NTT pada februari lalu yang mengundang kerumuman namun tidak ada teguran dari Satgas Covid-19, padahaldi negara lain seperti Norwegia dan Brazil Presiden langsung mendapat teguran oleh otoritas kesehatan di negaranya karena melanggar protokol kesehatan.

Gde Siriana Yusuf juga menerangkan sering terjadi kesalahan koordinasi dan tidak sinerginya pemerintah dal;am menerapkan kebijakan, sebagaimana ketika pemerintah larang mudik, Menteri Pariwisata Sandiaga Uno malah buka tempat wisata, saat angka Covid sedang menggila Kemendikbud Nadiem Makarim mewacanakan sekolah tatap muka, serta Menteri BUMN yang menyebut Ivermectin yang merupakan obat cacing sebagai obat Covid-19, padahal perihal itu harunya dikemukakan oleh lembaga yang berwenang, sepertinya satgas Covid-19.

Selanjutnya Gde Siriana Yusuf juga mempertanyakan sudah berapa anggaran negara dihabiskan untuk penanganan pandemi, dan membandingkan jika diawal melakukan Lockdown sesuai arahan Undang – undang kekarantinaan kesehatan, lebih besar mana biayanya lebih parah mana dampaknya?, hal demikian semakin menunjukkan penanganan pandemi tidak efisiensi dan tidak memiliki efektivitas mumpuni dalam penerapan kebijakan.

Gde Siriana Yusuf mempertanyakan, melihat kegagapan pemerintah dalam menghadapi pandemi, apakah masyarakat masih menaruh harapan pada pemerintah?. Untuk menjawab ini dibutuhkan kejujuran dalam menjawabnya baik oleh masyarakat maupun pemerintah itu sendiri.

Lebih lanjut bisa saja dimasyarakat muncul harapan bahwa Presiden Jokowi akan mengibarkan “bendera putih” dala, melawan pandemi Covid-19 dan krisis ekonomi.

“Sangat mungkin justru yang saat ini muncul di masyarakat adalah harapan bahwa Presiden Jokowi akan mengibarkan “Bendera putih” dalam melawan Covid-19 dan krisis ekonomi,” ungkap Gde Siriana Yusuf.

“Barangkali itu akan lebih baik bagi semua orang,” harapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here