Jakarta, Rubrik Indonesia —

Peneliti terbaru menemukan Planet Pluto memiliki laut di bawah tanah. Hasil penelitian menunjukkan lautan ini ada sejak awal kehidupan Pluto.

Peneliti menduga lautan ini merupakan salah satu faktor potensi Pluto untuk menopang kehidupan.

Pada penelitian sebelumnya, Pluto berasal dari batuan es yang menggumpal bersama di Sabuk Kuiper. Objek ini adalah cincin yang berada di luar orbit Neptunus.

“Ketika kita melihat Pluto hari ini, kita melihat dunia beku yang sangat dingin, dengan suhu permukaan sekitar 45 Kelvin [minus 380 derajat Fahrenheit, dan minus 228 derajat Celcius],” kata pemimpin penulis studi, Carver Bierson, seorang ilmuwan planet di Universitas California.

Meskipun ada bukti bahwa Pluto saat ini memiliki lautan cair di bawah permukaan beku yang tebal, para peneliti menduga laut di bawah tanah ini mulai berkembang setelah Pluto terbentuk.

Tepatnya setelah es mencair akibat panas dari unsur-unsur radioaktif yang berada di dalam inti Pluto.

“Saya merasa luar biasa bahwa dengan melihat geologi yang tercatat di permukaan itu, kita dapat menyimpulkan bahwa Pluto memiliki formasi yang cepat dan keras yang menghangatkan bagian dalam sehingga membentuk samudera air bawah permukaan,”

Para peneliti menganalisa apa yang disebut “fitur ekstensional” di permukaan Pluto. Air mengembang saat membeku, sehingga ketika bagian Pluto mendingin, permukaan Pluto meluas, sehingga menghasilkan struktur ekstensional tersebut.

Dilansir dari Discover, hal serupa terjadi ketika manusia memasukkan gelas yang berisi air ke dalam lemari pendingin es. Gelas akan retak apabila ditinggalkan semalaman, sebab es tersebut mengembang atau meluas.

Ketika air membeku, molekul-molekul di dalamnya membentuk struktur kristal yang membuat es kurang padat. Itu sebabnya es batu mengapung di gelas, dan mengapa air padat ini juga mengembang.

Para ilmuwan membandingkan pengamatan geologis Pluto yang ditangkap oleh pesawat ruang angkasa New Horizons NASA pada 2015 dengan berbagai model asal muasal dan evolusi Pluto.

Jika Pluto sejak awal merupakan planet yang dingin, maka cangkangnya yang beku akan mengalami kompresi di awal sejarah dunia ketika panas dari unsur-unsur radioaktif melelehkan es.

Kemudian permukaannya akan meluas setelah unsur-unsur radioaktif ini rusak dan Pluto mulai mendingin. Namun, mereka menemukan bagian paling kuno dari permukaan Pluto yang dicitrakan pada resolusi tinggi tidak menunjukkan tanda-tanda kompresi yang jelas.

Jika Pluto memiliki dari awal bukan merupakan planet yang dingin, panas, maka pada permukaan Pluto akan terlihat bukti geologis melalui pembentukan pengembangan. Hal ini menyebabkan cangkang es tumbuh dengan cepat sehingga menghasilkan fitur ekstensional di awal sejarah Pluto.

Dilansir dari Space, pembekuan ini akan berhenti ketika panas dari radioaktif menurun dan perlahan-lahan menciptakan struktur ekstensional dari waktu ke waktu.

Peneliti menemukan bahwa Pluto bukanlah planet beku sejak awal kelahirannya. Hal tersebut terlihat dari retakan di permukaan Pluto. Selayaknya retakan di gelas yang disebabkan oleh es yang membeku.

“Saya pikir implikasi yang paling menarik adalah bahwa lautan di bawah permukaan mungkin umum di antara objek besar Sabuk Kuiper ketika mereka terbentuk,” kata Bierson.

Temuan ini menunjukkan bahwa Pluto dan planet kerdil lainnya di Sabuk Kuiper, seperti Eris, Makemake dan Haumea, mungkin memiliki lautan di bawah permukaan sejak terbentuk.

Temuan air ini akan memberikan penilaian berbeda terhadap potensi habitat di planet-planet.

“Pada titik ini, kita tidak tahu bahan-bahan atau resep yang diperlukan agar kehidupan muncul di dunia mana pun. Namun, kami pikir air cair adalah unsur penting, dan karya ini menunjukkan bahwa Pluto sudah lama memilikinya,” kata Bierson.

(jnp/mik)

[Gambas:Video CNN]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here