Penghapusan Angka Kematian Covid-19, Epidemiolog: Bukan Hanya Salah, Ini Berbahaya

0
7

Rubrik Indonesia – Pemerintah menghapus atau mengeluarkan angka kematian dari indikator penanganan Covid-19, karena mengklaim adanya masalah dalam input data yang disebabkan akumulasi dari kasus kematian di beberapa minggu sebelumnya. Padahal, penghapusan angka kematian dalam indikator penanganan Covid-19 dianggap sebagai langkah yang keliru, salah dan berbahaya.

Pada Selasa (10/8/2021) kemarin, Pemerintah, melalui Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengumumkan perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) lewat kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (9/8/2021).

Pada kesempatan yang sama itulah dikeluarkannya angka kematian dari indikator penanganan Covid-19 karena ada problem pendataan, terdapat 26 kota dan kabupaten yang level PPKM-nya turun dari level 4 menjadi level 3.

“Dalam penerapan PPKM level 4 dan 3 yang dilakukan pada tanggal 10 sampai 16 Agustus 2021 nanti, terdapat 26 kota atau kabupaten yang turun dari level 4 ke level 3. hal ini menunjukkan perbaikan kondisi di lapangan yang cukup signifikan,” urai Luhut.

Luhut melanjutkan, evaluasi tersebut dilakukan dengan mengeluarkan indikator kematian dalam penilaian karena ditemukan adanya input data yang merupakan akumulasi angka kematian selama beberapa minggu ke belakang. “Sehingga menimbulkan distorsi dalam penilaian,” lanjutnya.

Tanggapan epidemiolog

Dicky Budiman, seorang ahli epidemiologi pun merespon langkah pemerintah tersebut, dalam akun Twitternya, @drdickybudiman.

Ia mengatakan bahwa data kematian adalah ukuran vital kesehatan suatu populasi, memberikan informasi pola penyakit yang menyebabkan kematian dari waktu ke waktu.

“Pola kematian menjelaskan perbedaan & perubahan status kesehatan, mengevaluasi strategi kesehatan, memandu perencanaan & pembuatan kebijakan,” tulis Dicky dalam twitnya.

Berkaitan dengan keputusan besar yang diambil pemerintah ini, Dicky mengatakan dengan tegas bahwa langkah yang diambil pemerintah ini bukan cuma salah dan keliru, tapi berbahaya.

“Selain salah juga berbahaya. Karena indikator kematian adalah indikator kunci saat ada pandemi atau wabah,” kata Dicky dihubungi Rabu (11/8/2021).

Dia menjelaskan, indikator angka kematian bukan hanya untuk melihat intervensi di hulu, tapi juga untuk menilai derajat keparahan dari suatu wabah.

Peneliti dan praktisi Kebijakan Keamanan Kesehatan Global di Pusat Kesehatan Lingkungan dan Populasi Griffith University Australia itu melanjutkan bahwa semua penyakit memerlukan indikator kematian, baik itu yang ada kaitannya dengan wabah penyakit atau tidak seperti kanker, stroke, dan diabetes.

Ini perlu dilakukan untuk melihat performa program dalam penanganan penyakit tertentu dan melihat apakah penyakit tersebut menjadi masalah serius atau tidak di suatu wilayah atau negara.

“Ini harus dilihat kematiannya,” ungkap dia.

Oleh karena itu, jika indikator angka kematian untuk Covid-19 dihapuskan akan berbahaya. “Berbahaya karena bisa salah interpretasi, salah strategi, termasuk salah ekspektasi,” imbuhnya.

Selain semua pengendalian penyakit memerlukan indikator angka kematian, Dicky berkata, dalam tataran nasional semua negara memerlukan statistik angka kematian yang akurat dan tepat waktu.

“Memang itu idealnya (akurat dan tepat waktu). Tapi bukan berarti kalau enggak akurat dan tepat waktu kemudian dihapuskan, bukan seperti itu,” tegasnya.

Dicky yang juga menjadi penasehat bagi Pemerintah Indonesia dalam membuat strategi penanganan pandemi mengatakan bahwa dirinya mengusulkan bahwa manajemen data harus ditingkatkan.

Dia berkata, statistik angka kematian penting untuk menginformasikan bagaimana performa kebijakan kesehatan, strategi, dan dampak terhadap strategi yang juga meliputi sosial dan ekonomi. Inilah yang menyebabkan seluruh dunia menggunakan angka kematian untuk memantau kemajuan suatu negara dalam membangun kesehatan nasional.

“Begitu pentingnya statistik kematian, jadi tidak boleh diabaikan,” tegas Dicky.

Dalam twit yang lain, Dicky juga menuliskan bahwa respons pandemi ditujukan antara lin untuk mengurangi kematian.

Karena itulah, dia berkata, memahami berapa banyak kematian yang terjadi sangat penting sebagai tolak ukur yang dapat digunakan untuk menilai keberhasilan intervensi yang dilakukan.

“Kapasitas pelaporan yang terbatas harus diperbaiki,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here