Perempuan China Kena COVID-19 Diserang Gila-gilaan Secara Online

0
15

Seorang perempuan di China dipermalukan di hadapan publik setelah dinyatakan positif Covid-19. Ia kini angkat suara setelah laki-laki yang menyebar data pribadinya secara online, dihukum.

Dalam sebuah unggahan dari rumah sakit, perempuan berusia 20 tahun itu mengatakan dirinya tidak mengerti mengapa ia diserang.

“Saya kebetulan tertular Covid-19, saya juga korban,” tulisnya.

Perempuan itu mendapati dirinya diserang di media sosial setelah banyak dari data pribadinya, mulai dari alamat rumah hingga nomor teleponnya, disebarkan secara online.

Tidak jelas mengapa pelaku memutuskan untuk mengunggah data pribadi perempuan yang disebut oleh media pemerintah hanya dengan nama keluarganya, Zhao.

Polisi di Kota Chengdu mengatakan bahwa pria berusia 24 tahun yang disebut dengan nama belakangnya, Wang telah diberi “hukuman administratif”.

“Privasi warga dilindungi oleh hukum,” sebut kepolisian pada platform media sosial Weibo, Rabu.

Kendati demikian, polisi tidak dapat berbuat banyak untuk menghentikan gelombang fitnah di dunia maya yang telah melanda Zhao.

`Gaya hidup` yang dipertanyakan

Dalam waktu singkat setelah Zhao dipastikan tertular Covid-19 pada Selasa (08/12), otoritas kesehatan setempat merilis detil keberadaan Zhao dalam dua pekan terakhir, dengan tujuan melacak kontak. Hal ini merupakan prosedur rutin dan identitas Zhao tidak dibuka.

Namun kasus Zhao menjadi topik hangat di media sosial di China lantaran dia tercatat mengunjungi salon kecantikan kuku, sebuah bar, dan sejumlah klub malam.

Sejumlah pengguna media sosial mengatakan hal ini merupakan bukti dari gaya hidup “yang patut dipertanyakan”. Pengguna media sosial lainnya menyatakan Zhao “ceroboh” dan menudingnya telah menyebarkan virus corona ke penjuru kota.

Kemudian Wang merilis nama Zhao dan data pribadi lainnya – setelah itulah serangan-serangan pribadi muncul dengan cepat dan masif.

Reuters
Walau memiliki jumlah kasus yang rendah, China tetap berhati-hati

 

Menyikapi situasi tersebut, Zhao lalu muncul di website Toutiao dan memohon melalui serangkaian unggahan agar serangan-serangan itu dihentikan.

Ia mengunggahnya dalam nama samaran tapi menggunakan akun terverifikasi dengan nama aslinya, menurut media lokal di sana.

Zhao juga menyatakan ia bekerja sama dengan pemerintah dengan melaporkan semua kegiatannya sesaat setelah ia dinyatakan positif Covid-19.

“Tidak ada seorang pun yang menginginkan hal ini terjadi pada mereka,” katanya seraya menambahkan bahwa ia mendapat telepon dan pesan singkat dari orang-orang tak dikenal.

Pada Rabu (09/12) malam, Zhao menulis bahwa ia tengah dirawat di rumah sakit, dan para petugas medis yang menanganinya khawatir Zhao mengalami depresi karena ancaman-ancaman melalui internet.

Namun Zhao juga menambahkan bahwa ia menerima pesan-pesan singkat dari orang tak dikenal yang menyemangatinya. “Hidup ini berarti,”katanya.

Pada Kamis (10/12) ia mengatakan dalam sebuah video – yang tidak memperlihatkan wajahnya – bahwa ia dirawat dengan baik di rumah sakit, dan berterima kasih atas perhatian publik padanya.

Kakek dan neneknya, yang berusia 60an dan 70an, merupakan kasus penularan lokal pertama di Chengdu dalam beberapa bulan.

Tidak diketahui dari mana kedua orang lansia ini tertular, tapi pejabat kesehatan lokal menyebut virus corona terdeteksi pada makanan yang disimpan keduanya di lemari es dan pada talenan di apartemen mereka.

Media pemerintah China menuding klaster-klaster yang baru muncul berasal dari makanan beku impor, tapi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan tidak ada bukti mengenai penularan dari makanan ataupun kemasan makanan.

Covid-19, perempuan, china

Reuters
Sempat jadi episentrum penularan Covid-19 di dunia, China kini dapat mengendalikan pandemi

 

Kasus penularan lokal sebagian besar telah dikendalikan di China. Negara ini memiliki tingkat kasus yang rendah secara keseluruhan tetapi jumlah kasus terkonfirmasi tidak termasuk pasien tanpa gejala.

China, negara tempat kasus pertama virus corona dilaporkan muncul setahun lalu, bukanlah satu-satunya negara di mana orang-orang dipermalukan bila tertular Covid-19.

Di Korea Selatan, misalnya, ketika pemerintah merilis data detil, seperti usia pasien, jenis kelamin, dan rekam jejak perjalanan dalam rangka melawan pandemi, warganya melakukan perburuan online untuk mengidentifikasi pasien.

Di Singapura, seorang eksekutif perusahaan teknologi dipermalukan setelah keliru diidentifikasi sebagai wanita yang menjadi berita utama karena menolak mengenakan masker.

Sementara itu, di Vietnam, putri dari keluarga kaya dirundung secara online karena bepergian ke Eropa sebelum kembali ke Hanoi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here