Jakarta, Rubrik Indonesia —

Suatu kali, seorang kolega datang kepada saya dan membahas soal film Cuties yang tayang di Netflix. Film ini, katanya, kontroversial.

Setelah melihat Cuties, saya memahami mengapa film ini bisa mengundang banyak hujatan bahkan di lokasi yang katanya “the land of the free” alias Amerika Serikat.

Namun pertanyaan saya adalah, kontroversi dan hujatan atas film ini apakah karena konten di dalamnya yang disebut mengeksploitasi seksualitas anak-anak, atau “film pedofil” seperti komentar netizen di artikel Cuties, atau karena publik tidak siap menerima kenyataan yang menghantui perkembangan anak-anak di era digital?

Film Cuties mengisahkan pergulatan batin seorang gadis berusia 11 tahun bernama Amy. Ia baru saja tiba di Paris, Prancis, dari kampung halamannya di Senegal.

Sembari menunggu kedatangan ayahnya, ia mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan baru namun tetap taat dan patuh akan agama Islam dan tradisi leluhurnya yang diajarkan turun-temurun di keluarga.

Namun dalam masa adaptasi itu, Amy justru menerima banyak kenyataan pahit: ayahnya menikah lagi, ibunya stres khawatir akan disalahkan karena dianggap tak becus urus anak dan merasa gagal sebagai seorang istri juga ibu, serta gejolak pubertas yang Amy rasakan sendiri.

Di tengah kemelut dan kegamangan itu, Amy menemukan sekelompok grup sebaya yang tampak bebas dan lepas dalam menjalani hidup. Ia pun tertarik untuk bergabung.

Film ini digarap dan ditulis langsung oleh Maimouna Doucoure, sekaligus merupakan film panjang pertamanya. Sebelum menulis ini, ia mengaku mendapatkan inspirasi usai melakukan riset dan menemukan sebuah fenomena di Paris.

“Gadis-gadis saat ini melihat bahwa semakin seorang perempuan tampil terlalu seksual di media sosial, semakin dia akan sukses dan anak-anak akan meniru apa yang mereka lihat, mencoba mencapai hasil yang sama tanpa memahami artinya. Hal ini berbahaya,” kata Maimouna Doucoure dalam sebuah wawancara yang dirilis oleh Netflix kepada Rubrikindonesia.com.




Di tengah kemelut dan kegamangan itu, Amy menemukan sekelompok grup sebaya yang tampak bebas dan lepas dalam menjalani hidup. (dok. Bien Ou Bien Productions/France 3 Cinéma/Netflix via IMDb)

Doucoure kemudian menggarap temuan tersebut sebagai sebuah cerita fiksi bergerak, selayaknya fungsi budaya dari film itu sendiri.

Ia merefleksikan fenomena tersebut dari sudut pandang Amy, lengkap dengan masalah sosial, budaya, agama, hingga soal feminisme di dalamnya.

Doucoure dengan runtut dan perlahan -tapi tak membosankan- menunjukkan berbagai permasalahan yang sejatinya banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, dan bukan hanya ada di Paris, tetapi juga di Indonesia.

Berapa banyak istri di Indonesia yang depresi ketika suaminya menikah lagi? Berapa banyak perempuan yang ditanamkan paham bahwa perkembangan anak adalah tanggung jawab ia seorang?

Berapa banyak orang yang bersikap tidak tanggung jawab atau sewenang-wenang tapi mengatasnamakan agama? Berapa banyak anak yang dipaksa mengikuti suatu hal karena sudah jadi ‘tradisi’? Atau, seberapa banyak anak dicap badung hanya karena mereka bersikap ‘tidak patuh’ menurut guru atau orang tua mereka?

Begitu banyak stigma sosial yang ditangkap Doucoure dalam Cuties, jauh lebih banyak dibandingkan permasalahan eksploitasi seksualitas anak yang menjadi tajuk berita dan hujatan di berbagai kolom komentar.

Sutradara yang memenangkan Best Director di Sundance International Film Festival 2020 ini dengan pas menaruh berbagai permasalahan tersebut sehingga terasa riil juga natural.




CutiesReview Cuties menilai film ini menunjukkan berbagai permasalahan yang sejatinya lumrah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. (dok. Bien Ou Bien Productions/France 3 Cinéma/Netflix via IMDb)

Pesan yang dibawakan Doucoure juga dapat tersampaikan dengan baik melalui performa apik dari para pemain. Saya memberikan salut kepada Fathia Youssouf yang memerankan Amy, karena mampu menampilkan emosi dengan baik tanpa harus berakting secara berlebihan.

Bukan hanya Youssouf, salut juga diberikan kepada para pemain karakter geng cewek, Medina El Aidi-Azouni, Esther Gohourou, Ilanah, dan Myriam Hamma yang mampu membawa keceriaan khas anak-anak. Namun di sisi lain, mereka juga dengan baik membawakan karakter mereka sampai film ini bisa menuai hujatan.

Eksploitasi atau Peringatan?

Hal yang menarik dan menjadi sorotan tajam untuk Cuties adalah cerita juga adegan yang dianggap mengeksploitasi seksualitas anak. Adegan itu jelas terlihat dalam trailer berupa adegan twerking yang dilakukan oleh geng Cuties.

Dalam adegan tersebut, terlihat bahwa Amy cs melakukan tarian yang kerap dipopulerkan oleh orang dewasa tersebut dan menaruhnya di media sosial. Lewat adegan ini, Doucoure dengan jelas memberikan pesan soal pengaruh dari media massa dan media sosial kepada anak-anak.

Doucoure dengan leluasa menggambarkan betapa anak-anak mampu menjadikan internet yang tanpa batasan sebagai pembimbing dalam pencarian jati diri mereka. Hal ini diperparah ketika orang tua tidak mengetahui atau pun peduli akan hal ini.

Momen pra pubertas seperti yang dialami oleh Amy adalah momen krusial bagi seorang anak untuk menentukan dirinya akan seperti apa. Pada momen ini, anak tak lagi ingin dianggap anak-anak namun juga belum sampai atau mampu berpikir juga bertindak seperti orang dewasa.

Apalagi di era media sosial seperti saat ini, pendapat netizen kerap menjadi “penentu” atas berbagai keputusan. Like, follow, komentar di media sosial kerap menguasai cara berpikir seseorang. Ini lah yang digambarkan oleh Doucoure melalui kehidupan Amy.

Demi bisa diterima, dipuji, atau pun mendapatkan teman, Amy rela melakukan apapun, termasuk hal yang dianggap orang dewasa -seperti saya- sebagai hal yang “gila”.

Hingga kemudian, tindakan Amy dan teman-temannya itu membuat saya berpikir, apakah salah anak bila ia meniru yang ia lihat dari media sosial karena tak ada orang dewasa yang mau mendengar keinginannya dan mampu mengarahkannya?

Apakah atas nama “kebebasan berpendapat”, seseorang kemudian menjadikan itu sebagai senjata untuk menentukan siapa yang layak diangkat atau dihujat?

Apakah lantas dengan menyalahkan perkembangan teknologi atas berbagai masalah dan dampak negatifnya adalah suatu hal yang benar, padahal sebenarnya abai melakukan tindakan pencegahan dan edukasi yang memadai?

Meski begitu, saya harus mengakui film Cuties memang memiliki adegan yang membuat saya resah dan risih.

[Gambas:Youtube]

Saya teringat banyak hal ketika melihat adegan “kontroversial” dalam film ini, mulai dari pengalaman kala remaja yang bertingkah sok dewasa, hingga menyadari bahwa begitu banyak anak-anak kini tampak ‘dewasa’ sebelum waktunya. Tengoklah media sosial bila tak percaya.

Terlepas dari itu semua, apakah Maimouna Doucoure benar melakukan eksploitasi seksualitas anak-anak atau hanya memberikan peringatan dengan media budaya populer, semuanya bergantung pada kacamata apa yang dikenakan penonton kala melihat sinematik 90 menit ini.

“Tontonlah Cuties sebagai sebuah pengalaman, bukan untuk menilai anak-anak gadis yang ada di film tersebut. Cobalah untuk mengingat ketika Anda seusia mereka,” kata Maimouna Doucoure.

“Kita semua harus bersatu untuk mencari tahu apa yang terbaik untuk anak-anak kita. Sebagai sutradara, sebagai seniman, saya melakukan bagian saya melalui film ini.” katanya.

(end)

[Gambas:Video CNN]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here